Tampilkan postingan dengan label Jendela Keluarga. Tampilkan semua postingan
Khasanah Bimbingan Suami Dunia Akherat

1.””Suami yg shaleh adalah seorang yg bisa membahagiakan istri dan anak-anaknya serta keluarganya baik di dunia ataupun di akhirat kelak. Seorang suami yg sholeh tidak akan memberi istri dan anak-anaknya kecuali dengan harta yg halal.
2.””Seorang suami yg shaleh adalah suami yg mampu menjaga amanah yg di berikan kepadanya, dan istri adalah amanah yg diberikan kepada seorang laki-laki yg menjadi suaminya.
3. ””Seorang suami yg shaleh adalah seorangan suami yg mampu memperlakukan istri dan juga kepada anak-anaknya dgn sifat-sifat yg terpuji, seorang suami yg shaleh akan selalu memperlakukan istrinya dgn sabar, sabar dgn setiap kesalahan-kesalahan istrinya dan memperlakukan istrinya dgn kelembutan dan penuh maaf saat istri di penuhi dgn emosi dan kemarahan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. menilai bahwa suami yang terbaik baik adalah yang paling baik pada istrinya.
“Orang Mukmin yang paling sempurna Imannya ialah yang paling baik akhlaqnya, dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada istrimu.” (HR. Tirmidzi no. 2537)
“…dan bergaullah dengan mereka secara baik…” (QS. An-Nisaa [4]:19)
“Sebaik-baik kalian adalah kalian yang terbaik terhadap isterinya. Dan aku adalah yang terbaik diantara kalian terhadap isteriku.” (HR. Ibnu Majah no. 1967).
“Hendaklah kamu (suami) memberi makan istri apabila engkau makan, dan engkau beri pakaian kepadanya bila engkau berpakaian, dan jangan engkau pukul mukanya, dan jangan engkau jelekkan dia, dan jangan engkau jauhi melainkan di dalam rumah.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, dan yang lainnya).
4. ””Suami yg shaleh adalah suami yg mampu menjadi pemimpin di dalam rumah tangganya, seorang suami bagaikan pemerintah di dalam rumah tangganya,seorang suami yg sholeh adalah yg mampu memperhatikan hak dan kepentingan rakyatnya di dlm pemerintahan yg di pimpinnya, dlm hal ini adalah istrinya. Memberi Bimbingan pada Keluarga, suami mempunyai status sebagai pemimpin dalam keluarga, karenanya ia berkewajiban memberi nafkah lahir, batin, dan memberi bimbingan agama kepada istri dan anaknya.
“Dan kewajiban ayah (suami) memberi makan dan pakaian kepada para ibu (isteri) dengan cara yang baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 233)
“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.” (QS. Ath-Thalaaq [65]: 6)
“Kaum laki-laki (suami) itu adalah pemimpin bagi kaum wanita (istri), oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (suami) atas sebagian yang lain (istri), dan karena mereka (suami) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisaa 4: 34)
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thahaa [20]: 132).
“Apabila seorang muslim memberikan nafkah kepada keluarganya dengan mengharap keridloan Allah maka baginya Shedaqah.” (HR. Bukhari no. 4932).
5. ””Seorang suami yg shaleh akan selalu mampu bersikap bijaksana di dalam tindakannya, menghargai pendapat istrinya, dan jika terjadi perbedaan pendapat dgn istrinya dgn sikap terpuji dan penuh cinta kasih menghargai pendapat sang istri serta mencari titik temu bersama dlm kerangka yg diperintahkan oleh Allah Subhana Wa Ta’ala dan menjauhi segala apa yg di larang oleh Allah Subhana Wa Ta’ala.
6. ””Seorang suami yg shaleh akan selalu mampu menjadi teladan terpuji buat istri dan anak-anaknya,mampu menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan yg baik, dan mendidik diri, istri, dan anak-anaknya utk menapaki jalan-jalan yg menuju keridhoan Allah.
7. ””Seorang suami yg shaleh adalah seorang suami yg mampu membuat dirinya, istrinya dan anak-anaknya mencintai ilmu, menguasai ilmu dan mampu mengamalkannya, menjadikan ilmu yg di perolehnya itu bermanfa’at bagi Bangsa, Negara, dan Agamanya.
8. ””Seorang suami yg shaleh adalah suami yg mampu membuat istrinya dan anak-anaknya tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yg luar biasa serta menapaki tangga-tangga sukses di dunia dan di akhirat kelak.
9. ””Seorang suami yg shaleh adalah suami yg mampu membimbing istri dan anak-anaknya di dalam sebuah akidah Syariat Islam menuju NUUR JANNAH (CAHAYA SYURGA), seorang suami yg shaleh adalah suami yg akan selalu menjaga istri dan anak-anaknya dari api neraka.
Konflik dalam Rumah Tangga & Penyelesaiannya:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari syaithan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’raaf [7]: 201).
Dekaplah Suamimu...!!
ღ☆ღ♥ Sambut dengan Sengyumanღ☆ღ♥
.ღ☆ღ♥ بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم ♥ღ☆ღ
´♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥
Lepaskan kepergian suamimu dengan doa dan sambutlah kedatangannya dengan senyuman. Anak-anak kita mengajarkan kepada orangtua bagaimana sepatutnya menyambut kedatangan mereka.
Hilang semua letih karena sambutan sang isteri serta anak-anak tercinta ketika tiba di rumah. Ada sebuah kisah yang yang menarik, Kisah ini pernah di alami sendiri oleh Rasulallah Salallahu Alaihi Wasallam bersama isterinya Siti Khadijah.
Peran istri sholehah tercermin dalam cerita ini :
Ketika Rasullah Salallahu Alaihi Wasallam mendapatkan wahyu pertama di Gua Hira,
Malaikat Jibril mendatangi beliau dan berkata, “Bacalah!”
Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi Wassalam n menjawab, “Saya tidak dapat membaca.”
Beliau menuturkan, “Lalu malaikat itu memegang dan mendekapku sampai aku merasa lelah. Kemudian ia melepaskanku dan megnatakan, “Bacalah!” Aku menjawab, “Aku tidak dapat membaca!’
Malaikat itu mengulanginya untuk yang ketiga sambil mengatakan, “Iqra’ bismi rabbikal ladzii khalaq; bacalah, dengan menyebut nama Rabbmu yang menciptakan.” (Al-’Alaq [96] : 1).
Kemudian Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi Wassalam pulang. Kepada istrinya, Khadijah, beliau berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.” Lalu beliau diselimuti sampai rasa keterkejutannya hilang. Kemudian beliau menceritakan apa yang terjadi kepada Khadijah. “Aku Khawatir terhadap diriku.”
Khadijah menjawab, “Tidak. Demi Allah, sama sekali Dia tidak akan menghinakanmu selamanya. Sebab, engkau orang yang mempererat tali persaudaraan dan memikul beban orang lain. Engkau orang yang menghormati tamu, membantu orang yang susah, dan membela orang-orang yang berdiri di atas kebenaran.” (HR. Bukhari).
Semoga tulisan singkat ini dapat memberikan manfaat...
♥ SALAM UHIBBUKUM FILLAH ♥ Aamiin ya Robbal 'alamiin ♥
Wahai Muslimah, Dekaplah Suamimu!
Oleh: Abu Hudzaifah, Lc.
“Lepaskan kepergian suamimu dengan doa dan sambutlah kedatangannya dengan senyuman. Anak-anak kita mengajarkan kepada orangtua bagaimana sepatutnya menyambut kedatangan mereka. Ya, mereka akan berlari penuh gembira sambil berucap, “Ayah datang… Ayah datang…” Sambutan yang baik kepada suami ketika pulang ke rumah, berarti mengusir segala keletihan, meringankan beban hidup, dan pekerjaan dengan segala probelatika yang dihadapinya. ‘Ritual’ semacam ini bagi seorang istri yang cerdik merupakan sebuah latihan rohani dan jasmani.” (Daqqatul Qulub, Dr. Muhammad Nabil Kazim).
***
Aisyah bertutur, “Awal permulaan wahyu kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi Wassalam adalah mimpi yang benar. Beliau tidak melihat sesuatu mimpi, kecuali mimpi tersebut datang seperti cahaya subuh. Kemudian beliau menyendiri di Gua Hira untuk beribadah beberapa malam sebelum kembali ke keluarganya dan mengambil bekal untuk kegiatannya itu sampai beliau dikejutkan oleh kedatangan Malaikat Jibril pada saat berada di Gua Hira.
Malaikat Jibril mendatangi beliau dan berkata, “Bacalah!”
Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi Wassalam n menjawab, “Saya tidak dapat membaca.”
Beliau menuturkan, “Lalu malaikat itu memegang dan mendekapku sampai aku merasa lelah. Kemudian ia melepaskanku dan megnatakan, “Bacalah!” Aku menjawab, “Aku tidak dapat membaca!’
Malaikat itu mengulanginya untuk yang ketiga sambil mengatakan, “Iqra’ bismi rabbikal ladzii khalaq; bacalah, dengan menyebut nama Rabbmu yang menciptakan.” (Al-’Alaq [96] : 1).
Kemudian Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi Wassalam pulang. Kepada istrinya, Khadijah, beliau berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.” Lalu beliau diselimuti sampai rasa keterkejutannya hilang. Kemudian beliau menceritakan apa yang terjadi kepada Khadijah. “Aku Khawatir terhadap diriku.”
Khadijah menjawab, “Tidak. Demi Allah, sama sekali Dia tidak akan menghinakanmu selamanya. Sebab, engkau orang yang mempererat tali persaudaraan dan memikul beban orang lain. Engkau orang yang menghormati tamu, membantu orang yang susah, dan membela orang-orang yang berdiri di atas kebenaran.” (HR. Bukhari).
Dekaplah suamimu. Sebagain orang memandang itu hanya layak dilakukan di saat-saat bulan madu. Seakan-akan masa-masa romantis itu hanya ada di awal-awal pernikahan. Seolah-olah perhatian kepada pasangan terlihat dan terwujud permulaan membanggun rumah tangga.
Bukan seperti itu. Kedekatan antara suami istri tetap diperlukan, seberapaun usia pernikahan Anda. Suami Anda butuh dampingan dari istri, guna memberikan secercah harapan dalam mengerakkan bahtera rumah tangga. Saat suami gelisah, khawatir, dan cemas, yang diperlukan adalah ketenangan. Bila mengetahui kondisi demikian, maka seyogyanya seorang istri sigap dan segera memberikan ketenangan bagi sang suami. Tak jarang kita temui para istri yang acuh tak acuh menyaksikan kondisi suaminya yang tengah dilanda kecemasan. Sehingga, sang suami merasa seolah-olah hanya dia yang menanggung beban tersebut.
Segeralah beri kesejukan pada suamimu. Segeralah beri ketenangan padanya. Segeralah bersikap seolah-olah engkau ikut serta dalam masalah yang tengah dihadapinya. Niscaya itu merupakan resep mujarab yang dapat mendatangan ketenangan baginya.
Sekali lagi, berilah ketenangan pada suami. Jangan sampai suamimu merasakan bahwa ia hidup sendiri. Tunjukkan empatimu padanya. Berikan solusi terbaik padanya. Berikan motivasi padanya. Pompa semangatnya. Munculkan harapan baginya. Semoga, keharmonisan tetap menyapa.*
Penulis buku, tinggal di Solo, Jawa Tengah
Red: Cholis Akbar
Sumber : Hidayatullah.com


