Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Yang Dibunuh dan yang Terbunuh di Neraka
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إِذَا أَشَارَ اَلرَّجُلُ عَلَى أَخِيْهِ بِالسِّلَاحِ فَهُمَا عَلَى حَرْفِ جَهَنَّمِ فَإِذَا قَتَلَهُ وَقَعَا فِيْهَا جَمِيْعًا- النسائي
Artinya: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Jika seseorang laki-laki menghunuskan senjata kepada saudaranya, maka keduanya berada di bibir neraka. Dan jika ia membunuhnya maka keduanya jatuh ke dalamnya.” (Riwayat An Nasa’i dishahihkan oleh Al Hafidz As Suyuthi)
Hadits di atas merupakan peringatan bagi umat Islam agar tidak membunuh saudaranya yang darahnya dilindungi oleh syariat.
Dari hadits di atas, Imam Al Munawi menjelaskan bahwa orang yang terbunuh juga masuk neraka karena ia juga berazam membunuh saudaranya.
Dari hadits di atas para ulama juga mengambil kesimpulan bahwa barang siapa berniat untuk melaksanakan maksiyat kemudian ia terus-menerus dalam niatnya itu, maka ia telah berdosa meski tidak sampai melakukannya. (Faidh Al Qadir, 1/362)
Jika demikian maka hendaklah sesama Muslim menghindari permusuhan dengan saudaranya yang lain, apalagi sampai berniat menghilangkan nyawa Muslim yang lain karena hal yang demikian menghantarkan pelakunya ke neraka, baik yang membunuh maupun yang terbunuh.
Sumber : Hidayatullah.com
Jauh-Dekat Berpahala
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الأَبْعَدُ فَلْأَبْعَدُ مِنَ الْمَسْجِدِ أَعْظَمُ أَجْراً- أبو داود
Artinya: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Yang lebih jauh. Maka yang lebih jauh (rumah) dari masjid lebih banyak pahalanya”. (Riwayat Al Hakim dan beliau menshahikannya)
Dari hadits di atas Al Allamah Abdurrauf Al Munawi menjelaskan bahwa setiap bertambah jauh jarak rumah dengan masjid maka bertambah pula pahala, karena banyaknya langkah yang ditempuh.
Dan ini sejalan dengan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim bahwa Rasulullah melarang para sahabat menjual rumah mereka dikarenakan jauh dengan masjid, hingga beliau bersabda,”Sesungguhnya bagi kalian setiap langkah adalah satu derajat”.
Hal ini tidak bertentangan dengan periwayatan yang menunjukkan fadhilah dekatnya rumah dengan masjid. Pada asalnya memang rumah yang dekat masjid lebih utama dibandingkan dengan rumah yang jauh darinya, hingga seluruh keluarga dari kabilah Bani Salamah ingin menjual rumah mereka yang jauh dari masjid untuk pindah ke daerah yang lebih dekat dengannya. Melihat hal itu maka Rasulullah tidak menyukainya karena menyebabkan wilayah terluar Madinah menjadi kosong hingga akhirnya beliau menyampaikan keutamaan tinggal meski jauh dari masjid. (Faidh Al Qadir, 3/221)
Jika demikian maka beruntunglah mereka yang tinggal dekat dengan masjid juga tidak rugi mereka yang tinggal jauh dari masjid, karena semakin jauh semakin banyak pahala yang diperoleh.
Sumber : Hidayatullah.com
Nabi pun Bercanda
:قال رسول الله صلى الله عليه و سلم
إِنِّي لَأَمْزَحُ وَلَا أَقُوْلُ إِلَّا حَقًّا
(الطبراني)
Artinya: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam terlah bersabda:”Sesungguhnya aku benar-benar bercanda dan aku tidak mengatakan kecuali dengan perkataan yang haq”
(At Thabarani, dengan sanad hasan menurut Al Hafidz Al Haitsami)
Dari hadits di atas Imam Al Munawi menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga bercanda meski beliau seorang rasul Allah, hingga Ibnu Uyaiman berpendapat bahwa bercanda merupakan bagian dari sunnah. Sedangkan canda Rasulullah sendiri tidak ada unsur bathil dan berlebihan.
Diantara canda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam termasuk perkataan beliau terhadap seorang wanita,”Suamimu yang ada warna putih di matanya”, juga perkataan beliau kepada seorang wanita tua,”Tidak masuk surga orang yang tua”, serta pernyataan kepada yang lain,”Kami benar-benar mengangkutmu di atas anak onta”.
Imam Al Mawardi sendiri menjelaskan bahwa bercanda sendiri memiliki dampak positif, yakni untuk mengakrabkan pertemanan dan menghibur lawan berbicara, dan ini tidak terwujud kecuali dengan perkataan yang baik dan tidak berlebihan. Sedangkan bercanda secara berlebihan akan menghilangkan wibawa, sebagaimana disampaikan oleh Raghib Al Asfahani.
Meski dianjurkan bercanda namun Ibnu Arabi menjelaskan bahwa menjadikan dien sebagai bahan gurauan adalah perkara yang dilarang karena itu bentuk dari kebodohan, sebagaimana yang dikabarkan Allah Ta’ala yang artinya,”Seungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk menyembelih sapi betina. Mereka pun mengatakan,’Apakah engkau menjadikan kami sebagai ejekan?’ Berkatalah Ia (Musa Alaihissalam),’Sesungguhnya aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk golongan orang-orang yang bodoh’”. (Al Baqarah: 67) (lihat, Faidh Al Qadir, 3/18,19)
Sumber : Hidayatulah.com
Tatkala Dunia Dibandingkan dengan Akhirat
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا كَماَ يَمْشِي أَحَدُكُمْ إِلَى الْيَمِّ فَأَدْخَلَ أُصْبُعَهُ فِيْهِ فَماَ خَرَجَ مِنْهُ فَهُوَ فِي الدُّنْيَا –الحاكم
Artinya: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Tidaklah dunia bagi akhirat kecuali seperti salah satu dari kalian berjalan menuju samudera lalu ia memasukkan jarinya padanya, maka apa yang menetes darinya adalah untuk dunia.”
(Riwayat Al Hakim dan beliau menshahihkannya)
Manusia sendiri mengalami tiga fase kehidupan, kehidupan dunia dan kehidupan akhirat serta kehidupan di antara keduanya. Maka jika dibandingkan lama kehidupan dunia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dua kehidupan setelahnya yang bersifat kekal.
Imam Al Munawi menjelaskan bahwa permisalan di atas adalah permisalan antara yang ghaib (akhirat) dengan yang hadir yakni lautan dan air yang menetas dari jari bertujuan untuk memudahkan pemahaman dalam menggambarkan keremehan dunia meski pada hakikatnya keremehan dunia terhadap akhirat jauh lebih rendah. (Lihat, Faidh Al Qadir, 5/517)
Ketika manusia akhirnya memahami dengan benar nilai dunia dibanding akhirat maka hal itu bisa mengingatkan dari keterlenaannya dari dunia dan sekaligus memotivasinya untuk meningkatkan amalan sebagai bekal kelak di akhirat.
Sumber : Hidayatullah.com
Berwibawa di Hadapan Makhluk
إِذَا خَافَ اللَّهَ العَبْدُ أَخَافَ اللَّهُ مِنْهُ كُلَّ شَيْءٍ وَإِذَا لَمْ يَخَف العَبْدُ اللَّهَ أَخَافَ اللَّهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ – العقيلي
Artinya: Jika seorang hamba takut kepada Allah, maka Allah menjadikan segala sesuatu takut kepadanya. Dan jika seorang hamba tidak takut kepada Allah, maka Allah menjadikan ia takut kepada segala sesuatu.
(Riwayat Al Uqailiy)
Al Hafidz Al Ghumariy menyatakan bahwa Al Hafidz As Sakhawiy menyebutkan syawahid yang menguatkan hadits ini (lihat, Al Mudawiy, 1/344). Sebagaimana Al Ajluniy juga menyebutkan hadits serupa yang diriwayatkan oleh Abu As Syaikh, Ad Dailamiy serta Al Qadha’iy,”Sebagian darinya menguatkan yang lainnya” (lihat, Kasyf Al Khafa, 2/326). Hal ini menujukkan bahwa hadits ini hasan.
Dari hadits di atas bisa disimpulkan bahwa kewibawaan seseorang di hadapan makhluk Allah lainnya bergantung kepada kadar takutnya kepada Allah, sebagaimana yang disampaikan oleh Yahya bin Mu’adz Ar Razi,”Sesuai dengan kadar takutmu kepada Allah, makhluk segan kepadamu” (lihat, Kasyf Al Khafa, 2/326).
Berkenaan dengan hadits ini, Al Munawiy mengkisahkan bahwa salah satu dari syeikh beliau telah membuktikan kebenarannya. Beliau tidak takut sama sekali terhadap binatang buas. Bahkan pernah suatu malam syeikh beliau itu terpaksa menginap di bangunan untuk makam yang jauh dari pendunduk. Di malam harinya dua ular besar datang mendekat dan mengelilingi beliau, hal itu berlangsung hingga pagi hari dan sang syeikh pun menyampaikan,”Perasaanku tidak berubah karena dominasi rasa yaqin dan tawakkal” (Faidh Al Qadir, 1/427).
Sumber: Hidayatullah.com
Kebaikan Banyak, Pengamalnya Sedikit
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :اَلْخَيْرُ كَثِيْرٌ وَ مَنْ يَعْمَلْ بِهِ قَلِيْلٌ –الطبراني
Artinya: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,"Kebaikan banyak namun orang yang mengamalkannya sedikit. (Riwayat Ath Thabarani, dihasankan oleh Al Hafidz As Suyuthi).
Al Munawi menjelaskan bahwa amalan kebaikan amat banyak sekali bentuknya, namun karena manusia banyak menyibukkan diri dalam urusan dunia dan melalaikan hal-hal yang memberikan manfaat untuk kehidupan akhirat, sehingga hanya sedikit dari mereka yang mengamalkan kebaikan.
Yang juga menyebabkan sedikitnya manusia melaksanakan kebaikan adalah kejahilan mereka mengenai rahasia syariat, bahwa setiap perkara mubah bisa bernilai sebagai ketaatan yang berpahala sesuai dengan niatnya. Sebagaimana kalau seseorang yang meniatkan dalam makannya untuk memperkuat fisik dalam berjihad, shalat atau puasa. Sebagaimana juga jika seseorang meniatkan diri dalam jima’nya utuk menjaga diri dari perzinaan atau agar memperoleh anak yang shalih. (lihat, Faidh Al Qadir, 3/681)
Sumber : Hidayatullah.com
Yang Shalih Beristighfar, Bagaimana Pendosa?
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: تُوْبُوا إِلَى اللَّهِ تَعاَلَى فَإِنِّي أَتُوْبُ إِلَيْهِ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ -البخاري في أدب المفرد
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya setiap hari sebanyak seratus kali”. (Riwayat Al Bukhari dalam Adab Al Mufrad dan dihasankan oleh Al Hafidz As Suyuthiy)
Imam Al Ghazaliy menjelaskan bahwa bentuk taubat itu bertingkat-tingkat sesaui dengan kondisi keimanan pelakunya. Bertaubatnya orang kebanyakan dalah bertaubat dari dosa-dosa yang telah ia lakukan. Sedangkan taubatnya orang shalih adalah taubat dari kelalaian hati. Dan taubat bagi orang-orang yang mencapai derajat keshalihan yang cukup tinggi (khawwas al khawwas) adalah istighfar dari perhatiannya terhadap selain Allah Ta’ala, karena kata “dzanbun” (dosa) secara bahasa bermakna derajat lebih rendah seorang hamba. Dengan demikian, setiap derajat keimanan memiliki taubat sendiri, hingga dengan taubat derajat keimanan dan derajat pertaubatan semakin meningkat.
Imam Al Munawiy menjelaskan bahwa ada perbedaan penyebutan jumlah taubat dalam hadits ini dan hadits lainnya yang menyebutkan 70 kali, namun itu semua cermin banyaknya istighfar bukan pembatasan jumlah istighfar yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (lihat, Faidh Al Qadir, 3/361,362).
Jika Rasulullah Shallallallahu Alalihi Wassallam perbanyak istighfar dalam setiap harinya, begaimana dengan kita “bangsa awam” yang banyak dosanya?
Sumber: Hidayatullah.com
Rasulullah Pun Tawarkan Bantuan kepada Pembantu
كَانَ النَّبِي صلى الله عليه وسلم مِمَّا يَقُوْلُ لِلْخَادِمِ: أَلَكَ حَاجَةٌ؟ -أحمد
Artinya: Dari apa-apa (yang banyak) dikatakan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kepada pembantu beliau,”Apakah engkau memerlukan sesuatu?” (Riwayat Ahmad, dihasankan oleh Al Hafidz As Suyuthi)
Dalam periwayatan yang lengkap disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menawarkan bantuan kepada pembantu beliau, hingga suatu saat sang pembantu menjawab,"Saya memerlukan agar Anda memberi syafaat untuk saya di hari kiamat." Dan Rasulullah pun mengiyakan, namun meminta kepada pembantu beliau itu untuk memperbanyak sujud.
Ibnu Arabi menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan kesempurnaan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam segala persoalan (Faidh Al Qadir, 5/229). Bagaimana tidak, perkataan yang biasa disampaikan oleh pembantu kepada majikan seperti,”Ada yang perlu saya lakukan?”, “Ada yang bisa saya bantu?” atau ungkapan lainnya malah disampaikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada pembantu beliau.
Nah, jika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam amat memuliakan pembantu dan tidak merendahkan mereka, bagaimana dengan sikap kita terhadap pembantu?
Sumber : Hidayatullah.com
